Sabtu, 25 Januari 2014

Topik 63: Puzzle Kehidupan


Di mall terlihat ada puzzle besar yg sangat indah. Di lantai tampak anak2 muda sedang menyusun puzzle dgn contoh puzzle yg sudah jadi td. Hidup kita ini spt potongan2 puzzle tsb. Dan Tuhan sedang menyusun puzzle IllahiNya. Saya pun sudah ada di puzzle itu,tuh di sudut kecil itu, ehh anda juga ada di sana di bagian lainnya. Seluruh manusia di dunia ini telah di susun dlm puzzle itu, diletakan SESUAI dgn tempatnya masing2, ada yg putih ada yg hitam, kuning, coklat. Ada yg pendek, ada yg tinggi, ada yg sujud, semua manusia tersusun dlm puzzle itu, tanpa membedakan apapun jg, tanpa membedakan agama suku atau ras. Krn semua manusia ciptaan Allah Yg Esa. Masing2 org ditempatkan SESUAI DGN TEMPATNYA pd WAKTUNYA. Eehh puzzle bayi2 yg sy lahirkan juga disusun di puzzle itu. Tampaknya Tuhan masih menyusun puzzle itu, masih banyak yg bolong2. Setiap bayi yg lahir disusun dlm puzzle tsb ..... Akhirnya pada SAATNYA nanti puzzle itu akan "lengkap" menjdi KESEMPURNAAN ILLAHI.

Kadang kt bertanya2, apa yg terjd? Kenapa harus demikian? Kenapa harus dia atau saya atau kamu yg sakit? Kenapa belum sembuh? Kenapa dia menderita? Intinya: KENAPA SY YG DI BAGIAN PUZZLE INI? SAYA MAUNYA DISANA. Banyak pasien dan org yg bertanya demikian.

Ada 2 jenis manusia, 1. yg protes dan mengerutu, dgn terpaksa menjalani hidupnya 2.berusaha mengerti, dan percaya bahwa dibagian manapun kita dr puzzle itu, pasti itu yg terbaik dan memang ALLAH yg mengijinkan hal itu terjadi.
Kedua sikap tersebut memberikan efek yg sangat berbeda secara psikosomatis dan hormonal, bagi yg penggerutu akan "terasa makin sakit", bagi yg percaya akan "terasa lebih sehat" meskipun masih sakit, paling tidak secara psikologis tidak sakit. Kalau sakit berusahalah untuk sembuh dgn jalan yg wajar dan benar (jgn dgn segala cara), dan boleh memohon: kalau boleh biarlah cawan ini berlalu dariku, ttp kalau harus kuminum, berilah aku kekuatan utk menanggungnya.

pin Dr.BJ Club 285A2085

www.dokterbj.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar