APA ITU KESUCIAN
(Thomas H Green,SJ)
Pada tingkat
pemahaman paling dangkal kata ini dapat berarti “saleh” atau “alim”, dan
mengacu kepada mereka yang memamerkan agamanya dan menyebut Allah atau
kehendakNya dalam setiap kalimat yang mereka ucapkan. Awalnya saya
memandang kesucian sebagai suatu prestasi, hasil kemauan yang kuat dan
ingkar diri sarat askesis terhadap “dunia, daging serta setan”. Sehingga
mereka berikhtiar mendaki gunung dengan tenaga dan upaya mereka
sendiri. Itulah sebabnya yang berhasil menjadi begitu mengesankan,
tetapi akhirnya kodrat manusia memberontak. Upaya untuk ”melaksanakannya
demi Allah”, secara cepat dan radikal, ternyata terlalu drastis dan
tergesa-gesa. Program serta jadwalnya ditentukan oleh mereka sendiri,
bukan oleh Tuhan. Bagaimana supaya program dan jadwalnya Tuhan yang
tentukan ?
St.Benediktus yang pada mulanya hidup sebagai rahib di
padang gurun, segera menemukan bahwa kesucian tidaklah ditemukan dalam
matiraga yang drastis serta penyangkalan diri yang radikal sebagaimana
dijalankan para petapa di padang gurun, melainkan dalam kehidupan
biasa-biasa saja suatu kesucian yang dihayati dalam hidup sehari-hari,
bersama teman-teman, dijiwai oleh cinta persaudaraan yang mengagumkan.
Pertama-tama
ini bukan proyek saya sendiri, melainkan proyek Allah, ini bukan hadiah
yang saya berikan atau cita-cita yang mesti saya capai, tetapi anugrah
yang saya sambut, karya yang ”bagian terbesarnya” dikerjakan Allah
sendiri. Saya mengatakan bagian terbesar, karena kita juga harus berbuat
sesuatu, Dia segera akan mengundang kita turut serta dalam perjamuan
bersamaNya (Why 3;20). Tetapi kita harus membuka pintu; Allah tidak akan
pernah mengundang kita secara paksa. Berbeda dari mendaki gunung Tuhan
dengan mengandalkan tenaga dan usaha sendiri dengan berkorban tidak
sedikit,, padahal yang perlu hanya merelakan dirinya digotong naik!Dan
ternyata hal ini tidak terlalu mudah dilakukan. Menomor-duakan usaha
pribadi dan belajar menari seirama dengan Allah mengandalkan suatu
matiraga yang tak kalah tuntutannya dibandingkan dengan perjuangan yang
akhirnya mematikan semangat beberapa teman novisiat saya. Kita dipanggil
menjalankan suatu matiraga yang berbeda, yaitu matiraga yang lebih
bersifat penyerahan diri daripada penyempurnaan diri.
”Ada
kebenaran Allah karena iman akan Yesus Kristus bagi semua orang, orang
yahudi dan orang kafir, yaitu semua orang yang percaya. Sebab tidak ada
perbedaan. Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan
kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan
Cuma-Cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.....Jika demikian, apakah
dasarnya untuk bermegah ? Tidak ada!.Karena kami yakin bahwa manusia
dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum ....” (Rm
3:22-24,27-28)
Jadi, segalanya adalah anugrah,.
Perjuangan saya pada awalnya bukanlah berupaya memperoleh hadiah
melainkan menyambut hadiah itu, mengijinkan Allah memberikannya kepada
saya, dan semakin menyadari sepenuh-penuhnya bahwa semuanya ini
sungguh-sungguh anugrah.”Ketika kita masih lemah, Kristus telah mati
untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan Allah” (Rm
5:6) Kesadaran akan anugrah yang diberikan dengan Cuma-Cuma mungkin
menjadi pelajaran pokok tentang kesucian yang harus saya pelajari.
Pemberian Tuhan mengandalkan kerjasama yang aktif dan kadang-kadang intensif. Menyambut tidak berarti bersikap pasif.
Seperti
kata St.Yohanes dari Salib, bahwa seluruh ciptaan baik adanya.
Masalahnya bukan pada ciptaan, tetapi tidak tertibnya kita melekat
padanya. Keluarga saya, pacar saya, beasiswa saya, teman-teman saya,
keinginan saya-semuanya sungguh baik adanya, hanya cara kita melekat
padanya yang harus ditertibkan. Tetapi menurut St. Ignatius, semuanya
ini hanyalah sarana bukan tujuan. Tujuan satu-satunya ialah kemuliaan Allah dan keselamatan pribadi kita.
Segala yang lain hanya sekedar jalan demi tercapainya tujuan akhir itu.
Kita telah melihat bahwa yang penting bukan yang kita usahakan sendiri,
melainkan bagaimana kita merelakan Tuhan mengerjakannya dalam diri
kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar