Budiman JAPAR *
Julianto Witjaksono AS **
Andon
Hestiantoro **
PPDS
tahap II C *
Staf
Pengajar **
Bagian
/ KSMF Obstetri dan Ginekologi
Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia/
RSUPN
Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta
Tujuan : Untuk membuat sebuah
ringkasan yang dapat digunakan sebagai acuan mengenai teknik dan komplikasi
tindakan histerektomi.
Bahan dan cara kerja : Membaca dari berbagai
sumber, mendiskusikan dengan nara sumber, kemudian ditulis
kembali dalam bentuk ringkasan.
Hasil : Histerektomi dilakukan atas indikasi tertentu.
Kegunaan dari operasi ini untuk mengangkat uterus keluar dari rongga abdomen,
dengan atau tanpa mengangkat tuba atau ovarium. Secara umum teknik yang dipakai
adalah teknik intrafascial modifikasi Richardson. Yang
harus diperhatikan adalah keyakinan untuk tidak mencederai vesika, ureter dan
kolon rectosigmoid. Vesika dibebaskan dari segmen bawah uterus dan vagina atas
dengan diseksi tajam dan tumpul. Dengan membiarkan tunggul vagina terbuka, akan
mengurangi insiden abses pelvic pasca operasi. Histerektomi dapat dilakukan
transvaginal maupun transabdominal. Insisi pada dinding abdomen dapat dilakukan
pfanensteil untuk kasus penyakit jinak.
Kesimpulan : Histerektomi umumnya dilakukan dengan teknik intrafascial modifikasi
Richardson, yang dilakukan atas indikasi tertentu dengan tujuan untuk
mengangkat uterus keluar adari rongga abdomen dengan atau tanpa mengangkat tuba
dan ovarium.
Kata kunci : Histerektomi II C
PENDAHULUAN
Saat ini saya telah berada pada tingkat II
C, di mana ada kewajiban yang harus saya lakukan yaitu ujian ketrampilan
histerektomi. Ketrampilan ini sangat penting bagi saya, karena banyak keadaan
ginekologi dan obstetrik yang memerlukan tindakan histerektomi dengan tujuan
untuk menyelamatkan hidup, untuk
mengurangi penderitaan dan untuk mengoreksi deformitas. 1 Karena hal
ini merupakan ketrampilan baru bagi saya, maka saya merasa perlu mempunyai
suatu acuan teknik pelaksanaannya serta kemungkinan komplikasi yang mungkin
timbul dan cara-cara penanggulangannya.
Dengan adanya acuan ini
diharapkan saya dan teman-teman dapat melakukan tugas di tahap ini dengan baik.
Disadari bahwa penulisan ini masih jauh dari yang diharapkan, oleh karena itu
dengan rendah saya sangat mengharapkan bimbingan dari para guru saya.
BAHAN DAN CARA
Penulisan ini telah saya mulai sejak saya
naik ke tahap II C, namun tertunda karena rusaknya komputer saya. Sumber bacaan
diambil dari berbagai sumber dan refrat-refrat yang ada, yang kemudian
dirangkum dalam satu penulisan, kemudian tulisan saya diskusikan dengan
pembimbing dan ditulis ulang beserta dengan perbaikannya.
HASIL
Histerektomi adalah suatu tindakan bedah yang dilakukan untuk mengangkat
uterus, baik dilakukan perabdominam maupun pervaginam.
Histerektomi dapat dilakukan karena indikasi :
infeksi intra uterin, jaringan parut yang menimbulkan cacat yang nyata, uterus
hipotonik yang menyolok serta tidak bereaksi terhadap uterotonika, prostaglandin
dan pemijatan, laserasi pada pembuluh darah besar uterus, mioma yang besar,
displasia berat atau karsinoma serviks in situ dan karena plasenta akreta atau
inkreta.2
Total abdominal
histerektomi dilakukan pada kasus jinak maupun keganasan, dimana pengangkatan
rahim diindikasikan. Operasi dapat dilakukan dengan meninggalkan kedua tuba dan
ovarium atau mengangkat salah satunya atau kedua-duanya. Untuk kasus-kasus
tumor jinak, kemungkinan pengangkatan ovarium unilateral atau bilateral harus
dibicarakan dengan pasien. Pada kasus keganasan biasanya
tidak ada pilihan lain sehingga kedua ovarium dan tuba harus diangkat, karena
seringnya mikrometastasis.3
Secara umum teknik yang
dipakai adalah teknik histerektomi intrafascial modifikasi Richardson. Kegunaan
dari operasi ini untuk mengangkat uterus keluar dari rongga abdomen, dengan
atau tanpa mengakat tuba atau ovarium.3
Yang harus diperhatikan adalah keyakinan untuk tidak mencederai vesika, ureter dan kolon rectosigmoid. Vesika dibebaskan dari segmen bawah uterus dan vagina atas dengan diseksi tajam dan tumpul.
Dengan membiarkan tunggul vagina terbuka dengan jahitan jelujur, secara dramatis mengurangi insiden abses pelvik pasca operasi.3
TEKNIK
Pasien dalam posisi dorsal litotomi, dan pemeriksaan rongga panggul
dilakukan dalam anestesi umum.3 Hal ini perlu dilakukan oleh
operator untuk mengetahui keadaan genitalia interna. Kemudian pasien diletakkan
dalam posisi Trendelenburg 150.
Dipasang Foley kateter yang dihubungkan dengan urine bag. Insisi mediana lebih baik untuk keadaan keganasan, jika
eksplorasi harus dilakukan sampai rongga abdomen bagian atas, maka insisi dapat
diperluas mengelilingi dan melewati umbilikus. Untuk penyakit jinak, insisi
pfannenstiel boleh dilakukan. Setelah peritonium dibuka, maka seluruh rongga
abdomen harus dieksplorasi termasuk hepar, kandung empedu, lambung, ginjal dan
kelenjar limfe aorta. 3
Lubang insisi diretraksi
dengan retraktor, dan vesika dilindungi dengan kassa basah hangat. Benang sutra
nomor 0 dijahit pada fundus uteri dan digunakan untuk menarik uterus.2,3
Uterus dikeluarkan dari kavum abdomen, dan ligamentum teres uteri (ligamentum
rotundum) yang ada di dekat uterus dipisahkan diantara klem Heaney dan klem Kocher,
dipotong diantara klem. Bagian distal dari ligamentum rotundum diikat dengan
benang sistetik yang dapat diserap ukuran 0 atau 1, bagian proksimal dipegang
dengan klem Ochsner.3
Insisi pada lapisan serosa
vesikouterina, yang dilakukan untuk menggerakkan vesika urinaria pada seksio
sesaria, diperlebar ke lateral dan ke atas melalui daun anteriol ligamentum
latum untuk mencapai ligamentum teres uteri yang telah diinsisi.2
Setiap pembuluh darah yang menghasilkan perdarahan aktif harus diklem dan diikat
untuk mengurangi jumlah darah yang hilang. Dalam keadaan demikian ligamentum
latum anterior dan posterior terbuka dengan jelas. Dengan gunting Metzenbaum
operator memotong ligamentum latum anterior ke arah plika vesikouterina. 2,3
Tindakan tersebut dilakukan juga pada sisi kontralateral. Setiap pembuluh darah
yang menghasilkan perdarahan aktif harus diklem dan diikat untuk mengurangi
jumlah darah yang hilang.
Kemudian vesika urinaria
dan lipatan peritonium yang melekat dipisahkan dari segmen bawah uterus dan
ditarik keluar lapangan operasi.Biasanya hal ini dapat mudah diselesaikan
dengan diseksi tumpul secara hati-hati, menggunakan kasa yang dipegang
jari-jari tangan. Jika selubung vesika urinaria melekat erat, misalnya karena
riwayat seksio sesarea atau karena radiasi pelvik sebelumnya, mungkin
diperlukan diseksi tajam yang dapat dilakukan secara hati-hati dengan
menggunakan gunting.2,3
Jika ovarium ingin
ditinggalkan, maka uterus ditegangkan kearah simpisis pubis dan daun posterior
ligamentum latum yang berdekatan dengan uterus ditembus tepat di bawah tuba
fallopii, ligamentum utero-ovarii serta pembuluh-pembuluh darah ovarium, dan
semua organ ini kemudian diklem ganda di dekat uterus dan dipotong; pedikel
lateral diligasi dengan jahitan ganda. Pedikel yang berdekatan dengan uterus dapat diligasi, dan klem
diangkat dari lapangan operasi. Prosedur yang sama dilakukan pada bagian
kontralateral.2,3 Daun
posterior ligamentum latum selanjutnya dibelah di sebelah inferior ke arah
ligamentum kardinale. Sekali lagi, setiap pembuluh darah yang menjadi sumber
perdarahan diklem dan diligasi sendiri-sendiri.
Untuk melakukan
histerektomi total diperlukan mobilisasi vesika urinaria yang jauh lebih luas
pada garis tengah dan ke arah lateral. Hal ini akan membantu mengangkat ureter
ke arah kaudal ketika vesika urinaria ditarik ke bawah simpisis dan juga akan
mencegah terpotongnya ureter atau terjahitnya vesika urinaria pada saat
dilakukan eksisi serviks dan penutupan vagina. Vesika urinaria dibebaskan
sekitar 2 cm di bawah tepi serviks yang
paling bawah agar bagian vagina yang paling atas terpapar.Jika serviks hanya
sedikit mengalami penipisan, sambungan servikovaginal dapat diidentifikasi
dengan palpasi di antara jari-jari salah satu tangan yang berada di dalam
cul-de-sac dan jari-jari tangan lain berada di anterior. Jika serviks jelas
menipis dan dilatasi, perasat tersebut biasanya tidak dapat dilakukan secara
memuaskan. Dalam keadaan ini, kavum uteri dapat dimasuki di sebelah anterior
pada garis tengah melalui kutub bawah lubang insisi yang dibuat untuk
melahirkan janin atau melalui lubang luka tusukan yang dibuat setinggi pembuluh
darah uterus yang diligasi. Satu jari diarahkan ke inferior melalui luka insisi
untuk mengidentifikasi tepi bebas serviks yang mengalami penipisan serta
dilatasidan forniks anterior vagina. Sarung tangan yang terkontaminasi
dilepaskan oleh perawat yang bertugas, dan kemudian tangan operator memakai
sarung tangan baru. Metode lain yang sangat bermanfaat untuk mengidentifikasi
bagian tepi serviks adalah dengan menempatan 4 logam penjepit kulit pada jam
12, 3, 6 dan 9 dibagian tepi serviks sebelum laparotomi. Kemudian histerektomi
sesaria yang jelas harus sudah dipertimbangkan.2
Uterus kemudian ditarik ke
arah laterokranial sehingga ligamentum latum teregang. Jaringan di sekitar
pembuluh darah uterus dibebaskan secara hati-hati. Tiga buah klem Ochser yang
melengkung dijepitkan pada vasa uterine, dengan cara menempatkan ujung klem
pada dinding uterus dan dilakukan penjepitan meluncur. Lalu dipotong, dijahit
dan diikat dengan benang sistetik absorbable no.0. Hal yang sama dilakukan pada
sisi kontralateral. Hati-hati jangna sampai melukai ureter yang melintas di
bawah arteri uterine.2 Uterus ditarik ke atas, dengan pegangan pisau
dilakukan diseksi pada fascia pubovesikal ke inferior. Tindakan ini menyisihkan
ureter ke arah lebih lateral dan lebih kaudal. 2
Ligamentum kardinale
dijepit dengan 2 klem Ochsner dengan jarak kira-kira 2 cm, kemudian dipotong
dan diikat dengan benang sistetik absorbable no.0. Hal yang sama dilakukan pada
ligamentum kardinale kontralateral.3
Lembar ligamentum latum
bagian posterior diinsisi ke bawah ke arah ligamentum sakrouterina, melewati
SBU belakang antara servik dan rectum.3 Kedua ligamentum
sakrouterina dijepit dengan 2 klem Ochsner, dipotong dan diikat dengan benang
sistetik absorbable no.0.3
Ligamentum kardinale, ligamentum sakrouterina dan
banyak pembuluh darah besar yang terdapat di dalam ligamen, secara sistematik
diklem ganda dengan klem lengkung tipe Heaney, klem lurus tipe Ochsner, atau
dengan instrumen serupa. Klem-klem tersebut ditempatkan sedekat mungkin dengan
serviks tanpa menyertakan serviks. Yang penting adalah bahwa volume jaringan
yang tercakup dalam tiap-tiap klem tidak begitu besar. Jaringan di antara
sepasang klem diinsisi, dan pedikel lateral yang biasanya mengandung pembuluh
darah diligasi dengan jahitan yang memadai. Langkah-langkah ini diulang sampai
tingkat forniks lateralis vagiba. Dengan cara ini cabang desenden pembuluh
darah uterina diklem, dipotong kemudian diligasi seperti pemotongan serviks
dari ligamentum kardinale di posterior.2
Uterus ditarik ke atas,
kemudian segmen bawah uterus dan vagina bagian atas diidentifikasi dengan
perabaan antara jempol dan telunjuk untuk memastikan bahwa semua ligamentum
telah dipotong. Vagina ditembus dengan pisau dan dilakukan insisi mengelilingi
forniks dengan pisau atau gunting. Uterus dikeluarkan, tunggul vagina dijepit
dengan klem Ochsner.3 Atau pada bagian tepat di bawah serviks,
sebuah klem lengkung digerakkan menyilang forniks lateralis vagina, dan
jaringan tersebut diinsisi di sebelah medial klem. Forniks lateralis vagina
yang telah dieksisi bersama-sama, sekaligus diikat ganda dan dijahitkan pada
puntung ligamentum kardinale. Kemudian seluruh serviks dieksisi dari dalam
vagina, sementara seorang asisten secara sistematik memegang seluruh tebal
bagian tepi potongan vagina dengan klem lurus Ochsner atau dengan klem yang
serupa.
Serviks diinspeksi untuk
meyakinkan bahwa eksisi serviks telah dilakukan dengan sempurna, dan vagina
diperbaiki kembali.Beberapa operator lebih senang untuk menutup vagina
menggunakan jahitan kromik catgut
berbentuk angka-8. Mungkin mayoritas operator lebih menyukai tindakan
hemostasis dengan menggunakan jahitan running-lock dengan benag kromik catgut yang ditempatkan melalui mukosa
dan fasia endopelvik di sekitarnya mengelilingi lingkaran vagina. Vagina yang
terbuka dapat meningkatkan drainase cairan, kalau tidak, akan terjadi
penumpukkan dan menyebabkan hematom serta pembentukan abses, seperti pada
modifikasi Richardson, tunggul vagina tidak ditutup, mukosa tunggul vagina
dijahit running lock dengan sistetik absorbable no.0 mulai dari bagian tengah
di bawah vesika, mengikut sertakan ligamentum kardinale dan lihamentum sakrouterina
.3
Saluran peritonium dan cul-de-sac dibersihkan dari darah dan
debris yang lain. Semua tempat insisi dari pedikel atas (tuba fallopii dan
ligamentum ovarii) sampai ke kubah vagina dan lipatan vesika urinaria secara
hati-hati diperiksa untuk mengetahui adanya perdarahan. Setiap tempat yang berdarah diklem dan
diligasi dengan cermat sesuai dengan keadaannya. Harus diperhatikan supaya
ureter tidak terganggu akibat ligasi hemostatik semacam itu.
Dilakukan reperitonisasi
dengan benag sistetik absorbable no.2.0 secara jelujur, menghubungkan ligamentum
latum anterior dan posterior. Ujung potongan tuba dan ovarii dan ligamentum
kardinale serta ligamentum sakrouterina ditanam retroperitoneal. 3
Pemasangan drain sangat
jarang, jika diperlukan maka diletakkan pada rongga pelvic retroperitoneal
melewati tunggul vagina yang terbuka. Jika tuba dan ovarium mau diangkat, maka
pada step gambar 5, jari telunjuk menembus ligamentum latum di bawah ligamentum
infundibulopelvikum, yakinkan bahwa ureter tidak ikut, karena pada penyakit
rongga pelvic (seperti endometriosis dan PID) ureter dapat berdeviasi mendekati
ligamentum infundibulopelvikum. Ligamentum infundibulopelvikum diklem dengan 2
klem, dipotong dan diikat. Untuk bilateral salpingoooforektomi, maka tindakan
tersebut dilakukan juga pada bagian kontralateral. Potongan ligamentum
infundibulopelvikum ditanam retroperitoneal. 3
Dalam keadaan normal dinding abdomen ditutup lapis demi lapis. Pada kasus
sepsis, luka abdomen dapat ditutup dengan jahitan nonreaktif yang permanen
lewat peritonium dan fasia dalam lapisan tunggal, sedang jaringan subkutan dan
kulit baru ditutup belakangan.
Setelah persalinan bayi baik dengan seksio sesaria
klasik atau dengan seksio sesaria segmen bawah uterus, histerektomi
supraservikal atau yang lebih baik lagi histerektomi total, biasanya dengan
retensi adneksa, dapat dilakukan menurut teknik pembedahan yang standar. Sambil
dilakukan pengangkatan uterus, infus oksitosin tetap dijalankan. Pembuluh darah
besar yang menjadi sumber perdarahan diklem dan segera diligasi. Plasenta
diangkat, dan untuk mencegah perdarahan yang terlalu banyak, sebuah laparotomi
pack kering dapat diletakkan dalam kavum uteri sebelum dilakukan penjahitan
jelujur atau jahitan satu-satu. Jika luka insisi tidak banyak berdarah,
sebagian ahli lebih memilih untuk tidak menutupnya.2
Untuk melakukan histerektomi
subtotal, hanya diperlukan amputasi korpus uteri setingga supraservikal. Puntung
serviks dapat ditutup dengan jahitan
catgut putus-putus. Jika terdapat rembesan darah yang persisten atau
kemungkinan infeksi, serviks dapat dilebarkan dan dimasukkan sebuah drain ke
dalam vagina. Reperitonisasi dilaksanakan seperti pada histerektomi
total.
Daftar Pustaka
1. Thomson JD. Hysterectomy.
In: Te Linde’S operative gynecology. 7th
ed.
Philadelphia. J.B.Lippincott Company;1992.p.663-738
- Cunningham FG, MacDonald PC, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC, Hankins GDV, et all. Cesarean hysterectomy. In: Williams Obstetrics. 20th ed. New Jersey: Apleton & Lange; 1997.p.522-6.
- Total abdominal hysterectomy with and without bilateral salpingo-oophorectomy. Atlas of pelvic surgery. Ed.3th. Wheeless CR. Wlliams & Wilkins. Baltimore, 1997.p. 241-7.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar