Jumat, 07 Juni 2013

Malaria Dalam Kehamilan




PENYEBAB;
Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
parasit Plasmodium yang masuk ke dalam tubuh manusia,
ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina (WHO 1981)

AKIBAT;
Pada ibu menyebabkan anemi, malaria serebral, edema paru,
gagal ginjal bahkan dapat menyebabkan kematian
Pada janin
menyebabkan abortus, persalinan prematur, berat badan lahir
rendah, dan kematian janin

PENGARUH MALARIA PADA JANIN

1. Kematian janin dalam kandungan
Kematian janin intrauterin dapat terjadi akibat hiperpireksi,
anemi berat, penimbunan parasit di dalam plasenta yang
menyebabkan gangguan sirkulasi ataupun akibat infeksi trans-
plasental.

2. Abortus
Abortus pada usia kehamilan trimester I lebih sering
terjadi karena demam tinggi sedangkan abortus pada usia
trimester II disebabkan oleh anemia berat.

3. Persalinan prematur
Umumnya terjadi sewaktu atau tidak lama setelah serangan
malaria. Beberapa hal yang menyebabkan persalinan prematur
adalah febris, dehidrasi, asidosis atau infeksi plasenta.

4. Berat badan lahir rendah
Penderita malaria biasanya menderita anemi sehingga akan
menyebabkan gangguan sirkulasi nutrisi pada janin dan
berakibat terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan janin
dalam kandungan

5.Anemia
Plasenta mempunyai fungsi sebagai barier protektif dari
berbagai kelainan yang terdapat dalam darah ibu sehingga
parasit malaria akan ditemukan di plasenta bagian maternal dan
hanya dapat masuk ke sirkulasi janin bila terdapat kerusakan
plasenta misalnya pada persalinan sehingga terjadi malaria
kongenital. Prevalensi malaria plasenta biasanya ditemukan
lebih tinggi daripada malaria pada sediaan darah tepi wanita
hamil, hal ini mungkin karena plasenta merupakan tempat
parasit bermultiplikasi. Diagnosis malaria plasenta ditegakkan
dengan menemukan parasit malaria dalam sel darah merah atau
pigmen malaria dalam monosit pada sediaan darah yang
diambil dari plasenta bagian maternal atau darah tali pusat.
Infeksi P. falciparum sering mengakibatkan anemi maternal,
abortus, lahir mati, partus prematur, BBLR serta kematian
maternal. Gambaran histologik infeksi aktif berupa plasenta
yang bewarna hitam/abu-abu, sinusoid padat dengan eritrosit
terinfeksi, eritrosit terinfeksi pada sisi maternal dan tidak pada
sisi fetal kecuali pada beberapa penyakit plasenta. Tampak
pigmen hemozoin dalam ruang intervilli dan makrofag disertai
infiltrasi sel radang. Dapat terjadi simpul sinsitial disertai
nekrosis fibrinoid dan kerusakan serta penebalan membrana
basalis trofoblas.

6. Malaria kongenital
Gejala klinik malaria kongenital antara lain iritabilitas,
tidak mau menyusu, demam, pembesaran hati dan limpa
(hepatosplenomegali) dan anemia tanpa retikulositosis dan
tanpa ikterus.

Malaria kongenital dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu:

a. True Congenital Malaria (acquired during pregnancy)
Pada malaria kongenital ini sudah terjadi kerusakan
plasenta sebelum bayi dilahirkan. Parasit malaria ditemukan
pada darah perifer bayi dalam 48 jam setelah lahir dan
gejalanya ditemukan pada saat lahir atau 1-2 hari setelah lahir.

b. False Congenital Malaria (acquired during labor)
Malaria kongenital ini paling banyak dilaporkan dan
terjadi karena pelepasan plasenta diikuti transmisi parasit
malaria ke janin. Gejala-gejalanya muncul 3-5 minggu setelah
bayi lahir.


KLINIS;
Gambaran karakteristik dari
malaria ialah demam periodik, anemi (Jenis anemi yang ditemukan adalah hemolitik normokrom) dan splenomegali
Sering
terdapat gejala prodromal seperti malaise, sakit kepala, nyeri
pada tulang/otot, anoreksi dan diare ringan

Sedangkan gambaran klinik malaria pada wanita di daerah
endemik sering tidak jelas, mereka biasanya memiliki
kekebalan yang semi-imun, sehingga :
- Tidak menimbulkan gejala, misal : demam
- Tidak dapat didiagnosis klinik


DIAGNOSIS MALARIA PADA KEHAMILAN ;
Malaria pada kehamilan dipastikan dengan ditemukannya
parasit malaria di dalam :
- Darah maternal
- Darah plasenta / melalui biopsi

PENANGANAN MALARIA PADA KEHAMILAN
Pengontrolan Malaria

Pengontrolan malaria dalam kehamilan tergantung derajat
transmisi, berdasarkan gabungan hal-hal di bawah ini :
1. Diagnosis dan pengobatan malaria ringan dan anemia
ringan sampai moderat
2. Kemoprofilaksis
3. Penatalaksanaan komplikasi malaria berat, termasuk anemia
berat
4. Pendidikan kesehatan dan kunjungan yang teratur untuk
ante natal care (ANC).
ANC teratur adalah dasar keberhasilan penatalaksanaan
malaria dalam kehamilan, yang bertujuan untuk memberikan
pendidikan kesehatan termasuk penyuluhan tentang malaria
dan dampaknya ( malaria serebral, anemi, hipoglikemi, edema
paru, abortus, pertumbuhan janin terhambat, prematuritas,
kematian janin dalam rahim, dll) pada kehamilan di semua lini
kesehatan (Posyandu, Pustu, Puskesmas dan Rumah Sakit)
- Memantau kesehatan ibu dan janin, serta kemajuan
kehamilan
- Diagnosis dan pengobatan yang tepat (tepat waktu)
- Memberikan ibu suplai obat untuk kemoprofilaksis
5. Perlindungan pribadi untuk mencegah kontak dengan
vektor, misal : pemakaian kelambu.
6. Pemeriksaan hemoglobin dan parasitologi malaria setiap
bulan.
7. Pemberian tablet besi dan asam folat serta imunisasi TT
lengkap.
8. Pada daerah non resisten klorokuin :
- Ibu hamil non-imun diberi Klorokuin 2 tablet/minggu dari
pertama datang/setelah sakit sampai masa nifas
- Ibu hamil semi imun diberi sulfadoksin-pirimetamin (SP)
pada trimester II dan III awal
9. Pada daerah resisten klorokuin semua ibu hamil baik non
imun maupun semi imun diberi SP pada trimester II dan III
awal



Tidak ada komentar:

Posting Komentar