Kamis, 06 Juni 2013

Abortus



ABORTUS


I. PENDAHULUAN 

(Dr.BJ)


Abortus adalah pengakhiran kehamilan dengan cara apapun sebelum janin cukup berkembang, untuk dapat hidup di luar kandungan, usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat fetus kurang dari 500 g .1,2  Bila hal ini terjadi secara spontan oleh awam dikatakan sebagai keguguran.1

Insiden abortus spontan secara umum sebesar 10% dari seluruh kehamilan.1 Terdapat 5 pembagian jenis abortus, yaitu: (1) abortus imminen, (2) abortus insipien, (3) abortus inkomplit, (4) missed abortion, (5) abortus habitualis.1

Pada  pembahasan ini kita hanya akan menfokuskan pada abortus iminen. Abortus iminen sendiri didefinisikan sebagai pengeluaran sekret vagina yang mengandung darah atau setiap perdarahan pervaginam yang tampak dalam paruh pertama kehamilan dengan ostium serviks yang tertutup.1,2,3

II. DATA SUBYEKTIF


Abortus iminen dapat diikuti dengan nyeri kram ringan yang mirip dengan nyeri menstruasi atau nyeri pinggang bawah. Hampir 4 atau 5 orang wanita hamil dapat mengalami bercak perdarahan dari vagina atau perdarahan yang lebih banyak dalam bulan-bulan awal gestasi, kurang lebih separuhnya akan mengalami abortus.1

Perdarahan pada abortus iminen sering sangat sedikit dan berupa darah segar terang,2 tetapi perdarahan tersebut dapat bertahan selama beberapa hari atau beberapa minggu.  Sebagian perdarahan yang terjadi sekitar waktu perkiraan menstruasi dapat bersifat fisiologis, yang disebut sebagai tanda Hartman.1

Biasanya, tetapi tidak selalu, awalnya akan terjadi perdarahan pervaginam, yang setelah beberapa jam atau beberapa hari diikuti kram abdomen. Nyeri pada abortus dapat terletak disebelah anterior dan berirama seperti nyeri pada persalinan biasa. Nyeri tersebut dapat berupa nyeri pinggang bawah yang persisten  disertai perasaan tekanan pada panggul; atau nyeri tumpul, rasa pegal di garis tengah pada daerah suprasimpisis yang disertai nyeri tekan pada uterus.1,2 ,3

Terdapat juga tanda perdarahan pervaginam pada keadaan keadaan seperti adanya polip serviks, servisis ostium eksterna dan reaksi desidua pada serviks. Yang biasanya timbul perdarahan postkoital, namun pada keadaan tersebut tidak disertai nyeri pinggang bawah atau nyeri abdomen bawah yang persisten.1




III. DATA OBYEKTIF


a. Pemeriksaan Fisik Umum
     
Dalam kasus ini biasanya keadaan umum pasien baik, kecuali jika didapatkan perdarahan lama yang menetap atau perdarahan massif, akan kita jumpai tanda-tanda anemia ataupun hipovolemia.1 Hanya mungkin akan kita temukan nyeri tekan pada daerah supra simpisis.

b. Pemeriksaan Ginekologi
        
Setiap wanita yang mengalami perdarahan pervaginam dalam paruh pertama kehamilannya harus menjalani pemeriksaan yang teliti, karena selalu terdapat kemungkinan bahwa serviks telah berdilatasi, sehingga abortus tidak dapat dihindari, atau adanya kehamilan kehamilan ekstra uterin. Juga harus dicari kemungkinan kelainan ginekologis lain sebagai sumber perdarahan, seperti: Erosio vascular serviks, polip serviks, ruptur varises atau keganasan.1,2

Pemeriksaan besar uterus juga harus dilakukan, jika didapatkan uterus yang tidak berkembang atau makin mengecil  dalam periode tertentu, hal ini menandakan bahwa janin telah mati.1

 c. Pemeriksaan Penunjang

Jika perdarahan menetap harus dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin dan hematokrit.1 Kadar hormon korionik gonadotropin dapat diukur secara serial, jika didapatkan kadar yang  menurun maka dapat hampir dapat dipastikan bahwa kehamilan tidak dapat dipertahankan.1

Pemeriksaan USG yang menunjukkan gambaran cincin gestasional dengan bentuk yang jelas dan memberikan gambaran ekho di bagian sentral dari bayangan embrio berarti bahwa konsepsi dapat dikatakan sehat. Kantong gestasi tanpa gambaran echo sentral dari embrio atau janin menunjukan, tapi tidak membuktikan, kematian hasil konsepsi. Bilamana abortus tidak dapat dihindari, diameter kantong gestasi rata-rata sering lebih kecil dari yang semestinya untuk umur kehamilan yang sama. Pada usia gestasi leabih dari 6 minggu, gerakan jantung janin akan terlihat dengan jelas.1 

IV. ANALISA

Abortus biasanya disertai perdarahan di dalam desidua basalis dan adanya perubahan nekrotik di dalam jaringan yang berdekatan dengan perdarahan. Konsepsi dapat terlepas sebagian atau seluruhnya dan mungkin menjadi benda asing dalam uterus, sehingga merangsang kontraksi unterus untuk mengeluarkannya, hal ini menyebabkan nyeri.1 Dapat juga diawali dengan matinya janin yang diikuti dengan ekspulsi.2 Bila kantong ketuban dibuka, umumnya ditemukan cairan ketuban yang mengelilingi janin kecil yang telah bermaserasi atau kemungkinan lain tidak ditemukan janin dalam kantong ketuban yang disebut sebagai blighted ovum.1

Lebih dari 80% abortus terjadi dalam 12 minggu pertama, dan anomaly kromosom merupakan penyebab sekurang-kurangnya separuh dari semua abortus itu. Risiko abortus spontan kelihatannya makin meningkat  dengan bertambahnya paritas disamping makin lanjutnya usia orangtua. Penyebab abortus lainnya adalah karena perkembangan zigot yang abnormal, infeksi , kelainan endokrin seperti hipertiroidism, DM dan defisiensi progesterone, factor nitrisi, trauma, kelainan uterus dan imunologis.1,2,3

V. PENATALAKSANAAN

Pasien diperbolehkan pulang, asal beristirahat di rumah dengan berbaring di tempat tidur, dan boleh kita berikan sedatif (Phenobarbital 30 mg atau diazepam 5 mg 2 x sehari) dan analgetik untuk membantu menghilangkan rasa nyeri, namun jika gejalanya makin memberat maka sebaiknya dirawat di rumah sakit.1,2

Sebagian dokter mengobati dengan pemberian progesterone intramuskular injeksi ataupun oral. Namun harus dipertimbangkan, karena sebagian progesterone, terutama yang rumus bangunnya berhubungan dengan testosteron, dapat menyebabkan virilisasi janin wanita. Dan lagi obat-oabt progestasional ini tidak terbukti efektif dalam mencegah abortus. Bahkan  “keberhasilan” obat ini sering menimbulkan missed abortion.1,2

Jika pengukuran kadar hormon korionik gonadotropin  menunjukkan penurunan konsentrasi dalam beberapa hari, maka hampir dapat dipastikan bahwa kehamilan tidak dapat dipertahankan.1

Jika perdarahan cukup untuk menyebabkan anemia, atau bahkan menimbulkan hipovolemia maka harus dilakukan tindakan pengakhiran kehamilan dengan dilatasi kuretase pada usia kehamilan 14 pertama, jika usia kehamilan lebih lanjut maka dapat dilakukan stimulasi dengan oksitosin drip ataupun prostaglandin sampai seluruh hasil konsepsi dikeluarkan. Semua jaringan yang keluar harus diperiksan secara seksama, apakah telah komplit atau belum.1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar