ABORTUS
I. PENDAHULUAN
(Dr.BJ)
Abortus
adalah pengakhiran kehamilan dengan cara apapun sebelum janin cukup berkembang,
untuk dapat hidup di luar kandungan, usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau
berat fetus kurang dari 500 g .1,2 Bila hal ini terjadi secara spontan oleh awam
dikatakan sebagai keguguran.1
Insiden
abortus spontan secara umum sebesar 10% dari seluruh kehamilan.1 Terdapat
5 pembagian jenis abortus, yaitu: (1) abortus imminen, (2) abortus insipien,
(3) abortus inkomplit, (4) missed abortion, (5) abortus habitualis.1
Pada
pembahasan ini kita hanya akan menfokuskan pada abortus iminen. Abortus
iminen sendiri didefinisikan sebagai pengeluaran sekret vagina yang mengandung
darah atau setiap perdarahan pervaginam yang tampak dalam paruh pertama
kehamilan dengan ostium serviks yang tertutup.1,2,3
II. DATA SUBYEKTIF
Abortus iminen
dapat diikuti dengan nyeri kram ringan yang mirip dengan nyeri menstruasi atau
nyeri pinggang bawah. Hampir 4 atau 5 orang wanita hamil dapat mengalami bercak
perdarahan dari vagina atau perdarahan yang lebih banyak dalam bulan-bulan awal
gestasi, kurang lebih separuhnya akan mengalami abortus.1
Perdarahan pada abortus iminen sering
sangat sedikit dan berupa darah segar terang,2 tetapi perdarahan
tersebut dapat bertahan selama beberapa hari atau beberapa minggu. Sebagian perdarahan yang terjadi sekitar
waktu perkiraan menstruasi dapat bersifat fisiologis, yang disebut sebagai
tanda Hartman.1
Biasanya, tetapi tidak selalu, awalnya
akan terjadi perdarahan pervaginam, yang setelah beberapa jam atau beberapa
hari diikuti kram abdomen. Nyeri pada abortus dapat terletak disebelah anterior
dan berirama seperti nyeri pada persalinan biasa. Nyeri tersebut dapat berupa
nyeri pinggang bawah yang persisten
disertai perasaan tekanan pada panggul; atau nyeri tumpul, rasa pegal di
garis tengah pada daerah suprasimpisis yang disertai nyeri tekan pada uterus.1,2
,3
Terdapat juga tanda perdarahan pervaginam
pada keadaan keadaan seperti adanya polip serviks, servisis ostium eksterna dan
reaksi desidua pada serviks. Yang biasanya timbul perdarahan postkoital, namun
pada keadaan tersebut tidak disertai nyeri pinggang bawah atau nyeri abdomen
bawah yang persisten.1
III. DATA OBYEKTIF
a. Pemeriksaan Fisik Umum
Dalam kasus ini
biasanya keadaan umum pasien baik, kecuali jika didapatkan perdarahan lama yang
menetap atau perdarahan massif, akan kita jumpai tanda-tanda anemia ataupun
hipovolemia.1 Hanya mungkin akan kita temukan nyeri tekan pada
daerah supra simpisis.
b. Pemeriksaan Ginekologi
Setiap wanita yang
mengalami perdarahan pervaginam dalam paruh pertama kehamilannya harus
menjalani pemeriksaan yang teliti, karena selalu terdapat kemungkinan bahwa
serviks telah berdilatasi, sehingga abortus tidak dapat dihindari, atau adanya
kehamilan kehamilan ekstra uterin. Juga harus dicari kemungkinan kelainan
ginekologis lain sebagai sumber perdarahan, seperti: Erosio vascular serviks,
polip serviks, ruptur varises atau keganasan.1,2
Pemeriksaan besar uterus juga harus dilakukan, jika didapatkan uterus yang
tidak berkembang atau makin mengecil
dalam periode tertentu, hal ini menandakan bahwa janin telah mati.1
c. Pemeriksaan Penunjang
Jika perdarahan
menetap harus dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin dan hematokrit.1 Kadar
hormon korionik gonadotropin dapat diukur secara serial, jika didapatkan kadar
yang menurun maka dapat hampir dapat
dipastikan bahwa kehamilan tidak dapat dipertahankan.1
Pemeriksaan USG
yang menunjukkan gambaran cincin gestasional dengan bentuk yang jelas dan memberikan
gambaran ekho di bagian sentral dari bayangan embrio berarti bahwa konsepsi
dapat dikatakan sehat. Kantong
gestasi tanpa gambaran echo sentral dari embrio atau janin menunjukan, tapi
tidak membuktikan, kematian hasil konsepsi. Bilamana abortus tidak dapat
dihindari, diameter kantong gestasi rata-rata sering lebih kecil dari yang
semestinya untuk umur kehamilan yang sama. Pada usia gestasi leabih dari 6
minggu, gerakan jantung janin akan terlihat dengan jelas.1
IV. ANALISA
Abortus biasanya
disertai perdarahan di dalam desidua basalis dan adanya perubahan nekrotik di
dalam jaringan yang berdekatan dengan perdarahan. Konsepsi dapat terlepas
sebagian atau seluruhnya dan mungkin menjadi benda asing dalam uterus, sehingga
merangsang kontraksi unterus untuk mengeluarkannya, hal ini menyebabkan nyeri.1
Dapat juga diawali dengan matinya janin yang diikuti dengan ekspulsi.2
Bila kantong ketuban dibuka, umumnya ditemukan cairan ketuban yang mengelilingi
janin kecil yang telah bermaserasi atau kemungkinan lain tidak ditemukan janin
dalam kantong ketuban yang disebut sebagai blighted ovum.1
Lebih dari 80%
abortus terjadi dalam 12 minggu pertama, dan anomaly kromosom merupakan
penyebab sekurang-kurangnya separuh dari semua abortus itu. Risiko abortus
spontan kelihatannya makin meningkat
dengan bertambahnya paritas disamping makin lanjutnya usia orangtua. Penyebab
abortus lainnya adalah karena perkembangan zigot yang abnormal, infeksi ,
kelainan endokrin seperti hipertiroidism, DM dan defisiensi progesterone, factor
nitrisi, trauma, kelainan uterus dan imunologis.1,2,3
V.
PENATALAKSANAAN
Pasien
diperbolehkan pulang, asal beristirahat di rumah dengan berbaring di tempat
tidur, dan boleh kita berikan sedatif (Phenobarbital 30 mg atau diazepam 5 mg 2
x sehari) dan analgetik untuk membantu menghilangkan rasa nyeri, namun jika
gejalanya makin memberat maka sebaiknya dirawat di rumah sakit.1,2
Sebagian dokter mengobati dengan pemberian progesterone intramuskular
injeksi ataupun oral. Namun harus dipertimbangkan, karena sebagian
progesterone, terutama yang rumus bangunnya berhubungan dengan testosteron,
dapat menyebabkan virilisasi janin wanita. Dan lagi obat-oabt progestasional
ini tidak terbukti efektif dalam mencegah abortus. Bahkan “keberhasilan” obat ini sering menimbulkan missed
abortion.1,2
Jika pengukuran kadar hormon korionik gonadotropin menunjukkan penurunan konsentrasi dalam
beberapa hari, maka hampir dapat dipastikan bahwa kehamilan tidak dapat
dipertahankan.1
Jika perdarahan cukup untuk menyebabkan anemia, atau bahkan menimbulkan
hipovolemia maka harus dilakukan tindakan pengakhiran kehamilan dengan dilatasi
kuretase pada usia kehamilan 14 pertama, jika usia kehamilan lebih lanjut maka
dapat dilakukan stimulasi dengan oksitosin drip ataupun prostaglandin sampai
seluruh hasil konsepsi dikeluarkan. Semua jaringan yang keluar harus diperiksan
secara seksama, apakah telah komplit atau belum.1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar