GEMELI MATI
SATU
Dr.Budiman
Japar,SpOG
Secara umum, penatalaksanaan wanita hamil
yang janinnya sudah meninggal dan persalinannya tidak dapat berlangsung secara
spontan, telah berubah dari tindakan menunggu menjadi intervensi yang lebih
aktif.1 Walaupun sebagian besar janin yang mati akan dilahirkan
secara spontan, namun stres psikologis yang timbul setelah mengetahui bahwa ibu
mengandung janin mati dan adanya bahaya defek koagulasi darah yang dapat
terjadi, serta telah ditemukannya cara-cara induksi persalinan yang efektif,
semua ini telah mendorong keinginan untuk melahirkan janin mati secara dini,
namun demikian, karena mayoritas ibu hamil dengan janin yang sudah meninggal
akan lahir secara spontan dalam waktu 2 minggu tanpa komplikasi, maka upaya mengosongkan
uterus dapat ditunda selama masa interval ini dengan catatan tidak ada gangguan
psikologis.1 Timbul permasalahan baru, jika kematian janin terjadi
pada salah satu janin dalam kehamilan multipel, yaitu kapan waktu yang tepat
untuk terminasi dan bagaimana dengan gangguan defek koagulasi.
Oleh karena itu pada kesempatan ini akan
dibahas sebuah laporan kasus mengenai kematian satu janin pada kehamilan
gemeli. Pokok masalah yang akan dibahas adalah mengenai kemungkinan timbulnya
defek koagulasi dan kapan waktu yang tepat untuk terminasi.
Koagulopati
konsumtif terjadi melalui perantara tromboplastin yang dibentuk oleh janin yang
mati yang memasuki sirkulasi maternal melalui plasenta.1 Suatu
pernelitian prospektif menunjukkan bahwa gangguan nyata pada mekanisme
koagulopati maternal jarang terjadi dalam waktu kurang dari 1 bulan sejak
kematian janin.1 Akan tetapi, jika janin tertahan untuk waktu yang
lebih lama lagi, 25% akan terjadi gangguan koagulasi.1 Selain itu
gangguan koagulasipun dapat dicetuskan karena peningkatan kadar ureum darah ibu
oleh berbagai sebab yang merusak endotel pembuluh darah.
Pernah dilaporkan beberapa
kasus dengan perubahan mendadak pada konsentrasi fibrinogen plasma, nilai
fibrinogen ini menunjukkan fluktuasi yang berulang-ulang antara nilai normal
dan sangat rendah selama beberapa hari.1 Kecepatan penurunan kadar
fibrinogen yang lazim ditemukan terlihat pada gambar 1, di mana penurunan ini
dapat mencapai kadar yang berbahaya yaitu 100 mg/ dl atau kurang.2
Secara bersamaan kadar produk penguraian fibrinogen meningkat dalam serum,
jumlah trombosit juga cenderung menurun. Perbaikan spontan terhadap defek
koagulasi tersebut, terjadi setelah janin yang mati itu dilahirkan.1
Kadang
kala satu janin sudah meninggal jauh sebelum kehamilan mencapai aterm, yang
sering terjadi pada kembar monokorionik5,6, yang disebabkan karena
kompresi tali pusat, kompetisi dalam memperoleh makanan ataupun karena
kongenital malformasi,7 dapat juga karena pertumbuhan yang tidak
seimbang yang disebabkan oleh adanya massa plasenta yang tidak sama (anequal
placental mass) sehingga distribusi makanan menurun pada salah satu janin,
gangguan genetik (genetic syndromes) seperti neural tube defect,
cardiac abnormalities, chromosomal defects. dan karena twin-twin
transfusion syndrome.4,6
Efek
kematian satu janin tergantung pada usia kehamilan pada saat mati.6
Jika kematian terjadi pada usia kehamilan kurang dari 14 minggu, tidak ada
resiko,6 karena janin akan diresorbsi total. Jika kematian terjadi
pada usia kehamilan lebih dari 14 minggu, maka ada kemungkinan terjadi transfer
tromboplastin pada janin yang hidup dan ibunya. Akibatnya pada janin yang hidup
dapat terjadi oklusi trombotik arterial yang biasanya terjadi pada arteri
cerebral anterior dan mediana sehingga menimbulkan encephalomalasia multikistik
yang merusak jaringan otak, jika oklusi terjadi pada arteri renalis dapat
menimbulkan nekrosis pada korteks renal,3,6,8 timbulnya nekrosis
tungkai bawah akibat obstruksi aliran darah tungkai yang berhubungan dengan
emboli,3 juga pernah dilaporkan timbulnya DIC,9 hingga
kematian janin. Janin yang mati akan membentuk fetus papyraseus atau fetus compressus (karena terserapnya
cairan tubuh atau akibat tergencet pertumbuhan janin yang hidup) jika kematian
terjadi pada trimester kedua seperti pada kasus ini.8 Akibatnya pada
ibu adalah timbulnya gangguan koagulasi jika kehamilan ini dipertahankan lebih
dari 3 minggu, maka harus ada monitoring faktor koagulasi periodik (fibrinogen,
protrombine time, partial tromboplastine time)6,9 dan USG
serial untuk melihat perkembangan janin dan ada tidaknya anastomosis. Pada
kasus ini kematian janin terjadi pada kehamilan lebih dari 14 minggu dan telah
teretensi lebih dari 3 minggu, maka harus dipikirkan kemungkinan
’tertransfernya’ tromboplastin. Untuk mendeteksi adanya kelainan
encephalomalasia multikistik dapat dilakukan USG kepala ataupun pemeriksaan
kadar interleukin 6, pemeriksaan kedua ini membutuhkan biaya besar dan belum
ada di Indonesia (N. Wibowo, 2000). Untuk mendeteksi adanya oklusi pada bagian
tubuh lainnya dapat dilakukan angiografi.
Pendekatan
tradisional pada kasus kematian satu janin pada kehamilan multipel adalah
melakukan terminasi, melahirkan yang hidup untuk mencegah komplikasi, namun
jika usia kehamilan masih muda maka tindakan ini tidak diterima karena angka
kemungkinan hidup yang sangat rendah.6 Karena tidak diketahui dengan
pasti kapan janin meninggal dan kapan kerusakan otak terjadi, maka lebih
disukai untuk segera melahirkan janin dalam waktu 24-48 jam setelah diketahui
kematiannya pada kehamilan lebih dari 28 minggu.6 Gabbe dkk.
menganjurkan penatalaksanaan sebagai berikut : jika kematian kurang dari 13
minggu tidak perlu dilakukan monitoring faktor koagulasi.5,8 Jika
ada anastomosis vaskuler yang memungkinkan terjadinya embolisasi dengan segala
komplikasinya dan kehilangan darah janin hidup ke janin mati akibat rendahnya
resistensi sirkulasi janin mati3,4,10 maka kami anjurkan tindakan
kauterisasi intrauterin.
Seperti
disebutkan sebelumnya bahwa jika karena suatu sebab kehamilan tersebut
dipertahankan, maka harus ada : (1) monitoring faktor koagulasi secara periodik
hingga waktu terminasi,6 jika ditemukan gangguan koagulasi maka
dilakukan heparinisasi,1,11 dimana dikatakan bahwa heparin yang
diberikan dengan tepat (1500 U/jam) akan menghambat konsumsi fibrinogen
patologis lebih lanjut sehingga mekanisme koagulasi pulih spontan, dan saat
akan terminasi, heparinisasi dihentikan,1 bahkan ada yang
menganjurkan pemberian antikoagulan profilaksis.12 Namun perlu
dipikirkan kemungkinan ikut ’terlisisnya’ fibrin-fibrin pada permukaan plasenta
janin yang mati yang berfungsi sebagai barier sehingga menyebabkan terlepasnya
zat-zat toksin termasuk tromboplastin dari
janin mati tersebut ke sirkulasi maternal sehingga memperberat gangguan
koagulasi (N.Wibowo, 2000). Dalam hal ini jika terjadi gangguan koagulasi yang
makin memberat selama proses heparinisasi maka kami anjurkan terminasi. (2)
monitoring kadar aktivin A cairan amnion untuk melihat kesejahteraan janin,
jika terdapat peningkatan berarti terjadi peningkatan resiko kematian janin13
dan (3) pematangan paru janin yang hidup.12
Daftar Pustaka
- Cunningham FG, MacDonald PC, Gant NF. Fetal dead and delayed delivery. In: Williams obstetrics. Ed.20th. Prentice-hall internatiional. Inc.USA.1997;789-91
- Cunningham FG, MacDonald PC, Gant NF. Multifetal pregnancy. In: Williams obstetrics.Ed.20th. Prentice-hall international.Inc. USA. 1997;861-94
- Nicolini U, Pisoni MP, Cela E, Robert A. Fetal blood sampling immediately before and within 24 hours of death in monochorionic twin pregnancies complicated by single intrauterine death. In: Fetus-Placenta-Newborn. Am J Obstet Gynecol. Mosby.Inc. Milan, Italy.1998;79(3)
- Citkara U, Berkowitz RL. Multiple gestations. In: Obstetrics normal and problem pregnancies (Editor: Gabbe SG, Niebyl JR, Simpson JL). Ed.3th. Churchill Livingstone, New York. 1996;821-62
- Pharoah PO, Adi Y. Consequences of in-utero death in a twin pregnancy. Lancet. 2000;355(9215): 1597-602. abstract
- Arias F. Multifetal gestation. In: Practical guide to high-risk pregnancy and delivery. Ed.2nd. Mosby Year Book. Missouri. 1993;131-146
- Dutta DC. Multiple pregnancy. In: Text book of obstetrics (Editor : Kanar H). Ed.4th. New Central Book Agency (p) Ltd. India. 1998;216-24
- Saito K, Ohtsu Y, Amano K, Nishijima M. Perinatal outcome and management of single fetal dead in twin pregnancy. J Perinat Med. 1992;27(6): 473-7. abstract
- Docus J. Multifetal pregnancy. In: Clinical of obstetrics (Phelan ST, Beckmann CRB, Ling FW). Ed.2nd. McGraw-hill.Inc. New York. 1993;303-11
- Wells SR, Strauss RA, Kuller JA. Letters to the editors. Am J Obstet Gynecol. 1999; 180(2)
- Zorlo CG, Yalcin HR, Caglar T, Gokmen O. Conservative management of twin pregnancies with one dead fetus: Is it safe? Acta Obstet Gynecol Scand. 1997;76(2): 128-30. abstract
- Cyrkowitcz A, Lacalski J. Actively continued twin pregnancy with intrauterine death of one fetus. Pol Merkuriusz Lek. 1998;4(22): 215-6. abstract
- Petraglia F, Gomez R, Luisi S. Increased midtrimester amniotic fluid activin A : A risk factor for subsequent fetal dead. In: Fetus-Placenta-Newborn. Am J Obstet Gynecol. Mosby,Inc. Udine and Pisa, Italy.1999;180(1)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar