Jumat, 07 Juni 2013

Malaria Dalam Kehamilan




PENYEBAB;
Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
parasit Plasmodium yang masuk ke dalam tubuh manusia,
ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina (WHO 1981)

AKIBAT;
Pada ibu menyebabkan anemi, malaria serebral, edema paru,
gagal ginjal bahkan dapat menyebabkan kematian
Pada janin
menyebabkan abortus, persalinan prematur, berat badan lahir
rendah, dan kematian janin

PENGARUH MALARIA PADA JANIN

1. Kematian janin dalam kandungan
Kematian janin intrauterin dapat terjadi akibat hiperpireksi,
anemi berat, penimbunan parasit di dalam plasenta yang
menyebabkan gangguan sirkulasi ataupun akibat infeksi trans-
plasental.

2. Abortus
Abortus pada usia kehamilan trimester I lebih sering
terjadi karena demam tinggi sedangkan abortus pada usia
trimester II disebabkan oleh anemia berat.

3. Persalinan prematur
Umumnya terjadi sewaktu atau tidak lama setelah serangan
malaria. Beberapa hal yang menyebabkan persalinan prematur
adalah febris, dehidrasi, asidosis atau infeksi plasenta.

4. Berat badan lahir rendah
Penderita malaria biasanya menderita anemi sehingga akan
menyebabkan gangguan sirkulasi nutrisi pada janin dan
berakibat terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan janin
dalam kandungan

5.Anemia
Plasenta mempunyai fungsi sebagai barier protektif dari
berbagai kelainan yang terdapat dalam darah ibu sehingga
parasit malaria akan ditemukan di plasenta bagian maternal dan
hanya dapat masuk ke sirkulasi janin bila terdapat kerusakan
plasenta misalnya pada persalinan sehingga terjadi malaria
kongenital. Prevalensi malaria plasenta biasanya ditemukan
lebih tinggi daripada malaria pada sediaan darah tepi wanita
hamil, hal ini mungkin karena plasenta merupakan tempat
parasit bermultiplikasi. Diagnosis malaria plasenta ditegakkan
dengan menemukan parasit malaria dalam sel darah merah atau
pigmen malaria dalam monosit pada sediaan darah yang
diambil dari plasenta bagian maternal atau darah tali pusat.
Infeksi P. falciparum sering mengakibatkan anemi maternal,
abortus, lahir mati, partus prematur, BBLR serta kematian
maternal. Gambaran histologik infeksi aktif berupa plasenta
yang bewarna hitam/abu-abu, sinusoid padat dengan eritrosit
terinfeksi, eritrosit terinfeksi pada sisi maternal dan tidak pada
sisi fetal kecuali pada beberapa penyakit plasenta. Tampak
pigmen hemozoin dalam ruang intervilli dan makrofag disertai
infiltrasi sel radang. Dapat terjadi simpul sinsitial disertai
nekrosis fibrinoid dan kerusakan serta penebalan membrana
basalis trofoblas.

6. Malaria kongenital
Gejala klinik malaria kongenital antara lain iritabilitas,
tidak mau menyusu, demam, pembesaran hati dan limpa
(hepatosplenomegali) dan anemia tanpa retikulositosis dan
tanpa ikterus.

Malaria kongenital dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu:

a. True Congenital Malaria (acquired during pregnancy)
Pada malaria kongenital ini sudah terjadi kerusakan
plasenta sebelum bayi dilahirkan. Parasit malaria ditemukan
pada darah perifer bayi dalam 48 jam setelah lahir dan
gejalanya ditemukan pada saat lahir atau 1-2 hari setelah lahir.

b. False Congenital Malaria (acquired during labor)
Malaria kongenital ini paling banyak dilaporkan dan
terjadi karena pelepasan plasenta diikuti transmisi parasit
malaria ke janin. Gejala-gejalanya muncul 3-5 minggu setelah
bayi lahir.


KLINIS;
Gambaran karakteristik dari
malaria ialah demam periodik, anemi (Jenis anemi yang ditemukan adalah hemolitik normokrom) dan splenomegali
Sering
terdapat gejala prodromal seperti malaise, sakit kepala, nyeri
pada tulang/otot, anoreksi dan diare ringan

Sedangkan gambaran klinik malaria pada wanita di daerah
endemik sering tidak jelas, mereka biasanya memiliki
kekebalan yang semi-imun, sehingga :
- Tidak menimbulkan gejala, misal : demam
- Tidak dapat didiagnosis klinik


DIAGNOSIS MALARIA PADA KEHAMILAN ;
Malaria pada kehamilan dipastikan dengan ditemukannya
parasit malaria di dalam :
- Darah maternal
- Darah plasenta / melalui biopsi

PENANGANAN MALARIA PADA KEHAMILAN
Pengontrolan Malaria

Pengontrolan malaria dalam kehamilan tergantung derajat
transmisi, berdasarkan gabungan hal-hal di bawah ini :
1. Diagnosis dan pengobatan malaria ringan dan anemia
ringan sampai moderat
2. Kemoprofilaksis
3. Penatalaksanaan komplikasi malaria berat, termasuk anemia
berat
4. Pendidikan kesehatan dan kunjungan yang teratur untuk
ante natal care (ANC).
ANC teratur adalah dasar keberhasilan penatalaksanaan
malaria dalam kehamilan, yang bertujuan untuk memberikan
pendidikan kesehatan termasuk penyuluhan tentang malaria
dan dampaknya ( malaria serebral, anemi, hipoglikemi, edema
paru, abortus, pertumbuhan janin terhambat, prematuritas,
kematian janin dalam rahim, dll) pada kehamilan di semua lini
kesehatan (Posyandu, Pustu, Puskesmas dan Rumah Sakit)
- Memantau kesehatan ibu dan janin, serta kemajuan
kehamilan
- Diagnosis dan pengobatan yang tepat (tepat waktu)
- Memberikan ibu suplai obat untuk kemoprofilaksis
5. Perlindungan pribadi untuk mencegah kontak dengan
vektor, misal : pemakaian kelambu.
6. Pemeriksaan hemoglobin dan parasitologi malaria setiap
bulan.
7. Pemberian tablet besi dan asam folat serta imunisasi TT
lengkap.
8. Pada daerah non resisten klorokuin :
- Ibu hamil non-imun diberi Klorokuin 2 tablet/minggu dari
pertama datang/setelah sakit sampai masa nifas
- Ibu hamil semi imun diberi sulfadoksin-pirimetamin (SP)
pada trimester II dan III awal
9. Pada daerah resisten klorokuin semua ibu hamil baik non
imun maupun semi imun diberi SP pada trimester II dan III
awal



Kamis, 06 Juni 2013

Teknik Angkat Rahim (histerektomi)




 Budiman JAPAR *
                                                                Julianto Witjaksono AS **
Andon Hestiantoro **

PPDS tahap II C *
Staf Pengajar **
Bagian / KSMF Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta


            Tujuan : Untuk membuat sebuah ringkasan yang dapat digunakan sebagai acuan mengenai teknik dan komplikasi tindakan histerektomi.
            Bahan dan cara kerja : Membaca dari berbagai sumber, mendiskusikan dengan nara sumber, kemudian ditulis kembali dalam bentuk ringkasan.
            Hasil : Histerektomi dilakukan atas indikasi tertentu. Kegunaan dari operasi ini untuk mengangkat uterus keluar dari rongga abdomen, dengan atau tanpa mengangkat tuba atau ovarium. Secara umum teknik yang dipakai adalah teknik intrafascial modifikasi Richardson. Yang harus diperhatikan adalah keyakinan untuk tidak mencederai vesika, ureter dan kolon rectosigmoid. Vesika dibebaskan dari segmen bawah uterus dan vagina atas dengan diseksi tajam dan tumpul. Dengan membiarkan tunggul vagina terbuka, akan mengurangi insiden abses pelvic pasca operasi. Histerektomi dapat dilakukan transvaginal maupun transabdominal. Insisi pada dinding abdomen dapat dilakukan pfanensteil untuk kasus penyakit jinak.  
            Kesimpulan : Histerektomi umumnya dilakukan dengan teknik intrafascial modifikasi Richardson, yang dilakukan atas indikasi tertentu dengan tujuan untuk mengangkat uterus keluar adari rongga abdomen dengan atau tanpa mengangkat tuba dan ovarium.
            Kata kunci  : Histerektomi II C

 

PENDAHULUAN


Saat ini saya telah berada pada tingkat II C, di mana ada kewajiban yang harus saya lakukan yaitu ujian ketrampilan histerektomi. Ketrampilan ini sangat penting bagi saya, karena banyak keadaan ginekologi dan obstetrik yang memerlukan tindakan histerektomi dengan tujuan untuk menyelamatkan hidup,  untuk mengurangi penderitaan dan untuk mengoreksi deformitas. 1 Karena hal ini merupakan ketrampilan baru bagi saya, maka saya merasa perlu mempunyai suatu acuan teknik pelaksanaannya serta kemungkinan komplikasi yang mungkin timbul dan cara-cara penanggulangannya.
            Dengan adanya acuan ini diharapkan saya dan teman-teman dapat melakukan tugas di tahap ini dengan baik. Disadari bahwa penulisan ini masih jauh dari yang diharapkan, oleh karena itu dengan rendah saya sangat mengharapkan bimbingan dari para guru saya.

BAHAN DAN CARA


Penulisan ini telah saya mulai sejak saya naik ke tahap II C, namun tertunda karena rusaknya komputer saya. Sumber bacaan diambil dari berbagai sumber dan refrat-refrat yang ada, yang kemudian dirangkum dalam satu penulisan, kemudian tulisan saya diskusikan dengan pembimbing dan ditulis ulang beserta dengan perbaikannya.

HASIL


Histerektomi adalah suatu tindakan bedah yang dilakukan untuk mengangkat uterus, baik dilakukan perabdominam maupun pervaginam.

Histerektomi dapat dilakukan karena indikasi : infeksi intra uterin, jaringan parut yang menimbulkan cacat yang nyata, uterus hipotonik yang menyolok serta tidak bereaksi terhadap uterotonika, prostaglandin dan pemijatan, laserasi pada pembuluh darah besar uterus, mioma yang besar, displasia berat atau karsinoma serviks in situ dan karena plasenta akreta atau inkreta.2

            Total abdominal histerektomi dilakukan pada kasus jinak maupun keganasan, dimana pengangkatan rahim diindikasikan. Operasi dapat dilakukan dengan meninggalkan kedua tuba dan ovarium atau mengangkat salah satunya atau kedua-duanya. Untuk kasus-kasus tumor jinak, kemungkinan pengangkatan ovarium unilateral atau bilateral harus dibicarakan dengan pasien. Pada kasus keganasan biasanya tidak ada pilihan lain sehingga kedua ovarium dan tuba harus diangkat, karena seringnya mikrometastasis.3

            Secara umum teknik yang dipakai adalah teknik histerektomi intrafascial modifikasi Richardson. Kegunaan dari operasi ini untuk mengangkat uterus keluar dari rongga abdomen, dengan atau tanpa mengakat tuba atau ovarium.3

 

            Yang harus diperhatikan adalah keyakinan untuk tidak mencederai vesika, ureter dan kolon rectosigmoid. Vesika dibebaskan dari segmen bawah uterus dan vagina atas dengan diseksi tajam dan tumpul.

 

Dengan membiarkan tunggul vagina terbuka dengan jahitan jelujur, secara dramatis mengurangi insiden abses pelvik pasca operasi.3



TEKNIK


Pasien dalam posisi dorsal litotomi, dan pemeriksaan rongga panggul dilakukan dalam anestesi umum.3 Hal ini perlu dilakukan oleh operator untuk mengetahui keadaan genitalia interna. Kemudian pasien diletakkan dalam posisi Trendelenburg 150.  Dipasang Foley kateter yang dihubungkan dengan urine bag. Insisi mediana lebih baik untuk keadaan keganasan, jika eksplorasi harus dilakukan sampai rongga abdomen bagian atas, maka insisi dapat diperluas mengelilingi dan melewati umbilikus. Untuk penyakit jinak, insisi pfannenstiel boleh dilakukan. Setelah peritonium dibuka, maka seluruh rongga abdomen harus dieksplorasi termasuk hepar, kandung empedu, lambung, ginjal dan kelenjar limfe aorta. 3

            Lubang insisi diretraksi dengan retraktor, dan vesika dilindungi dengan kassa basah hangat. Benang sutra nomor 0 dijahit pada fundus uteri dan digunakan untuk menarik uterus.2,3 Uterus dikeluarkan dari kavum abdomen, dan ligamentum teres uteri (ligamentum rotundum) yang ada di dekat uterus dipisahkan diantara klem Heaney dan klem Kocher, dipotong diantara klem. Bagian distal dari ligamentum rotundum diikat dengan benang sistetik yang dapat diserap ukuran 0 atau 1, bagian proksimal dipegang dengan klem Ochsner.3
            Insisi pada lapisan serosa vesikouterina, yang dilakukan untuk menggerakkan vesika urinaria pada seksio sesaria, diperlebar ke lateral dan ke atas melalui daun anteriol ligamentum latum untuk mencapai ligamentum teres uteri yang telah diinsisi.2 Setiap pembuluh darah yang menghasilkan perdarahan aktif harus diklem dan diikat untuk mengurangi jumlah darah yang hilang. Dalam keadaan demikian ligamentum latum anterior dan posterior terbuka dengan jelas. Dengan gunting Metzenbaum operator memotong ligamentum latum anterior ke arah plika vesikouterina. 2,3 Tindakan tersebut dilakukan juga pada sisi kontralateral. Setiap pembuluh darah yang menghasilkan perdarahan aktif harus diklem dan diikat untuk mengurangi jumlah darah yang hilang.

            Kemudian vesika urinaria dan lipatan peritonium yang melekat dipisahkan dari segmen bawah uterus dan ditarik keluar lapangan operasi.Biasanya hal ini dapat mudah diselesaikan dengan diseksi tumpul secara hati-hati, menggunakan kasa yang dipegang jari-jari tangan. Jika selubung vesika urinaria melekat erat, misalnya karena riwayat seksio sesarea atau karena radiasi pelvik sebelumnya, mungkin diperlukan diseksi tajam yang dapat dilakukan secara hati-hati dengan menggunakan gunting.2,3

            Jika ovarium ingin ditinggalkan, maka uterus ditegangkan kearah simpisis pubis dan daun posterior ligamentum latum yang berdekatan dengan uterus ditembus tepat di bawah tuba fallopii, ligamentum utero-ovarii serta pembuluh-pembuluh darah ovarium, dan semua organ ini kemudian diklem ganda di dekat uterus dan dipotong; pedikel lateral diligasi dengan jahitan ganda. Pedikel yang berdekatan  dengan uterus dapat diligasi, dan klem diangkat dari lapangan operasi. Prosedur yang sama dilakukan pada bagian kontralateral.2,3  Daun posterior ligamentum latum selanjutnya dibelah di sebelah inferior ke arah ligamentum kardinale. Sekali lagi, setiap pembuluh darah yang menjadi sumber perdarahan diklem dan diligasi sendiri-sendiri.

            Untuk melakukan histerektomi total diperlukan mobilisasi vesika urinaria yang jauh lebih luas pada garis tengah dan ke arah lateral. Hal ini akan membantu mengangkat ureter ke arah kaudal ketika vesika urinaria ditarik ke bawah simpisis dan juga akan mencegah terpotongnya ureter atau terjahitnya vesika urinaria pada saat dilakukan eksisi serviks dan penutupan vagina. Vesika urinaria dibebaskan sekitar 2 cm  di bawah tepi serviks yang paling bawah agar bagian vagina yang paling atas terpapar.Jika serviks hanya sedikit mengalami penipisan, sambungan servikovaginal dapat diidentifikasi dengan palpasi di antara jari-jari salah satu tangan yang berada di dalam cul-de-sac dan jari-jari tangan lain berada di anterior. Jika serviks jelas menipis dan dilatasi, perasat tersebut biasanya tidak dapat dilakukan secara memuaskan. Dalam keadaan ini, kavum uteri dapat dimasuki di sebelah anterior pada garis tengah melalui kutub bawah lubang insisi yang dibuat untuk melahirkan janin atau melalui lubang luka tusukan yang dibuat setinggi pembuluh darah uterus yang diligasi. Satu jari diarahkan ke inferior melalui luka insisi untuk mengidentifikasi tepi bebas serviks yang mengalami penipisan serta dilatasidan forniks anterior vagina. Sarung tangan yang terkontaminasi dilepaskan oleh perawat yang bertugas, dan kemudian tangan operator memakai sarung tangan baru. Metode lain yang sangat bermanfaat untuk mengidentifikasi bagian tepi serviks adalah dengan menempatan 4 logam penjepit kulit pada jam 12, 3, 6 dan 9 dibagian tepi serviks sebelum laparotomi. Kemudian histerektomi sesaria yang jelas harus sudah dipertimbangkan.2

            Uterus kemudian ditarik ke arah laterokranial sehingga ligamentum latum teregang. Jaringan di sekitar pembuluh darah uterus dibebaskan secara hati-hati. Tiga buah klem Ochser yang melengkung dijepitkan pada vasa uterine, dengan cara menempatkan ujung klem pada dinding uterus dan dilakukan penjepitan meluncur. Lalu dipotong, dijahit dan diikat dengan benang sistetik absorbable no.0. Hal yang sama dilakukan pada sisi kontralateral. Hati-hati jangna sampai melukai ureter yang melintas di bawah arteri uterine.2 Uterus ditarik ke atas, dengan pegangan pisau dilakukan diseksi pada fascia pubovesikal ke inferior. Tindakan ini menyisihkan ureter ke arah lebih lateral dan lebih kaudal. 2

            Ligamentum kardinale dijepit dengan 2 klem Ochsner dengan jarak kira-kira 2 cm, kemudian dipotong dan diikat dengan benang sistetik absorbable no.0. Hal yang sama dilakukan pada ligamentum kardinale kontralateral.3

            Lembar ligamentum latum bagian posterior diinsisi ke bawah ke arah ligamentum sakrouterina, melewati SBU belakang antara servik dan rectum.3 Kedua ligamentum sakrouterina dijepit dengan 2 klem Ochsner, dipotong dan diikat dengan benang sistetik absorbable no.0.3

Ligamentum kardinale, ligamentum sakrouterina dan banyak pembuluh darah besar yang terdapat di dalam ligamen, secara sistematik diklem ganda dengan klem lengkung tipe Heaney, klem lurus tipe Ochsner, atau dengan instrumen serupa. Klem-klem tersebut ditempatkan sedekat mungkin dengan serviks tanpa menyertakan serviks. Yang penting adalah bahwa volume jaringan yang tercakup dalam tiap-tiap klem tidak begitu besar. Jaringan di antara sepasang klem diinsisi, dan pedikel lateral yang biasanya mengandung pembuluh darah diligasi dengan jahitan yang memadai. Langkah-langkah ini diulang sampai tingkat forniks lateralis vagiba. Dengan cara ini cabang desenden pembuluh darah uterina diklem, dipotong kemudian diligasi seperti pemotongan serviks dari ligamentum kardinale di posterior.2

           
            Uterus ditarik ke atas, kemudian segmen bawah uterus dan vagina bagian atas diidentifikasi dengan perabaan antara jempol dan telunjuk untuk memastikan bahwa semua ligamentum telah dipotong. Vagina ditembus dengan pisau dan dilakukan insisi mengelilingi forniks dengan pisau atau gunting. Uterus dikeluarkan, tunggul vagina dijepit dengan klem Ochsner.3 Atau pada bagian tepat di bawah serviks, sebuah klem lengkung digerakkan menyilang forniks lateralis vagina, dan jaringan tersebut diinsisi di sebelah medial klem. Forniks lateralis vagina yang telah dieksisi bersama-sama, sekaligus diikat ganda dan dijahitkan pada puntung ligamentum kardinale. Kemudian seluruh serviks dieksisi dari dalam vagina, sementara seorang asisten secara sistematik memegang seluruh tebal bagian tepi potongan vagina dengan klem lurus Ochsner atau dengan klem yang serupa.

            Serviks diinspeksi untuk meyakinkan bahwa eksisi serviks telah dilakukan dengan sempurna, dan vagina diperbaiki kembali.Beberapa operator lebih senang untuk menutup vagina menggunakan jahitan kromik catgut berbentuk angka-8. Mungkin mayoritas operator lebih menyukai tindakan hemostasis dengan menggunakan jahitan running-lock dengan benag kromik catgut yang ditempatkan melalui mukosa dan fasia endopelvik di sekitarnya mengelilingi lingkaran vagina. Vagina yang terbuka dapat meningkatkan drainase cairan, kalau tidak, akan terjadi penumpukkan dan menyebabkan hematom serta pembentukan abses, seperti pada modifikasi Richardson, tunggul vagina tidak ditutup, mukosa tunggul vagina dijahit running lock dengan sistetik absorbable no.0 mulai dari bagian tengah di bawah vesika, mengikut sertakan ligamentum kardinale dan lihamentum sakrouterina .3

            Saluran peritonium dan cul-de-sac dibersihkan dari darah dan debris yang lain. Semua tempat insisi dari pedikel atas (tuba fallopii dan ligamentum ovarii) sampai ke kubah vagina dan lipatan vesika urinaria secara hati-hati diperiksa untuk mengetahui adanya perdarahan.  Setiap tempat yang berdarah diklem dan diligasi dengan cermat sesuai dengan keadaannya. Harus diperhatikan supaya ureter tidak terganggu akibat ligasi hemostatik semacam itu.
           
            Dilakukan reperitonisasi dengan benag sistetik absorbable no.2.0 secara jelujur, menghubungkan ligamentum latum anterior dan posterior. Ujung potongan tuba dan ovarii dan ligamentum kardinale serta ligamentum sakrouterina ditanam retroperitoneal. 3

            Pemasangan drain sangat jarang, jika diperlukan maka diletakkan pada rongga pelvic retroperitoneal melewati tunggul vagina yang terbuka. Jika tuba dan ovarium mau diangkat, maka pada step gambar 5, jari telunjuk menembus ligamentum latum di bawah ligamentum infundibulopelvikum, yakinkan bahwa ureter tidak ikut, karena pada penyakit rongga pelvic (seperti endometriosis dan PID) ureter dapat berdeviasi mendekati ligamentum infundibulopelvikum. Ligamentum infundibulopelvikum diklem dengan 2 klem, dipotong dan diikat. Untuk bilateral salpingoooforektomi, maka tindakan tersebut dilakukan juga pada bagian kontralateral. Potongan ligamentum infundibulopelvikum ditanam retroperitoneal. 3
           
Dalam keadaan normal dinding abdomen ditutup lapis demi lapis. Pada kasus sepsis, luka abdomen dapat ditutup dengan jahitan nonreaktif yang permanen lewat peritonium dan fasia dalam lapisan tunggal, sedang jaringan subkutan dan kulit baru ditutup belakangan.

Setelah persalinan bayi baik dengan seksio sesaria klasik atau dengan seksio sesaria segmen bawah uterus, histerektomi supraservikal atau yang lebih baik lagi histerektomi total, biasanya dengan retensi adneksa, dapat dilakukan menurut teknik pembedahan yang standar. Sambil dilakukan pengangkatan uterus, infus oksitosin tetap dijalankan. Pembuluh darah besar yang menjadi sumber perdarahan diklem dan segera diligasi. Plasenta diangkat, dan untuk mencegah perdarahan yang terlalu banyak, sebuah laparotomi pack kering dapat diletakkan dalam kavum uteri sebelum dilakukan penjahitan jelujur atau jahitan satu-satu. Jika luka insisi tidak banyak berdarah, sebagian ahli lebih memilih untuk tidak menutupnya.2

            Untuk melakukan histerektomi subtotal, hanya diperlukan amputasi korpus uteri setingga supraservikal. Puntung serviks dapat ditutup dengan  jahitan catgut putus-putus. Jika terdapat rembesan darah yang persisten atau kemungkinan infeksi, serviks dapat dilebarkan dan dimasukkan sebuah drain ke dalam vagina. Reperitonisasi dilaksanakan seperti pada histerektomi total.


Daftar Pustaka
1.      Thomson JD. Hysterectomy. In:  Te Linde’S operative gynecology. 7th ed.                                    Philadelphia. J.B.Lippincott Company;1992.p.663-738
  1. Cunningham FG, MacDonald PC, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC, Hankins GDV, et all. Cesarean hysterectomy. In: Williams Obstetrics. 20th ed. New Jersey: Apleton & Lange; 1997.p.522-6.
  2. Total abdominal hysterectomy with and without bilateral salpingo-oophorectomy. Atlas of pelvic surgery. Ed.3th. Wheeless CR. Wlliams & Wilkins. Baltimore, 1997.p. 241-7.

Gejala Hamil


Teks: Yatin Suleha

Bagaimana cara BuMil mengetahui apakah sakit yang dirasakan itu merupakan hal yang perlu penanganan segera ataukah tidak? Kondisi BuMil memang perlu perhatian ekstra ya Moms. Lalu apa saja yang termasuk kondisi yang harus Moms perhatikan? Well, simak yuk Moms penjelasan dari dokter Budiman Japar, SpOG berikut ini.

Kondisi BuMil Yang Perlu Penanganan Segera
Ada 4 hal secara garis besar yang perlu BuMil perhatikan untuk ditangani medis segera, antara lain:
  1. Timbul mulas yang teratur, periodik dan sifatnya progresif. Mulas yang BuMil rasakan adalah mulas yang muncul dan hilang secara terus menerus secara teratur misalnya 55 menit, turun menjadi 44 menit kemudian 30 menit dan seterusnya semakin cepat dan semakin progresif semakin kuat semakin cepat maka BuMil harus segera ke rumah sakit terdekat.
  2. Keluar air yang banyak hingga mencapai pakaian luar yang basah. (jika hanya pakaian dalam saja yang basah artinya belum dalam kondisi darurat).
  3. Keluar darah.
  4. Gerak bayi yang berkurang. Kira-kira bayi bergerak 7-10 kali dalam 24 jam (kurang lebih 3 jam sekali). Jika BuMil merasakan biasanya bayi bergerak namun tiba-tiba kurang atau tidak bergerak sama sekali sebaiknya harus segera ke rumah sakit untuk dievaluasi kehamilannya.

Yang Biasa Terjadi Pada Kondisi BuMil
Trimester Satu
Perdarahan. Alasannya karena bayi masih baru dan belum kuat. Bayi baru kuat ditunjang oleh ari-arinya kalau sudah 16 minggu (4 bulan). Pada usia 16 minggu besar ari-ari sudah maksimal walau belum optimal fungsinya, karena fungsinya baru optimal jika sudah berusia 20 minggu. Diantara usia 0-20 minggu ini Moms jika rahim tidak kuat, maka bisa terjadi perdarahan atau yang biasa disebut dengan abortus. Dengan tahapan-tahapan abortusnya serta macam-macam abortusnya, dari mulai  ancaman abortus, abortus  incomplete sampai abortus complete. Perdarahan juga termasuk kasus yang paling sering terjadi, so Moms mulai bisa aware ya.
Trimester Dua
Kontraksi. Pada usia trimester kedua kehamilan sudah mulai membesar. Semakin besar rahim maka semakin sensitif terhadap kontraksi. Lebih mudah untuk mulas dan mulai timbul ditrimester dua dan tiga. Karena semakin besar kehamilan maka rahim semakin membutuhkan banyak oksigen, jika suplainya kurang atau terjadi infeksi maka timbul kontraksi hingga bisa lahir prematur. Jika mulas dibiarkan terus akhirnya bisa lahir prematur.
Trimester Tiga
Perdarahan, kontraksi, pecah ketuban serta tendangan bayi yang berkurang. Dan yang paling sering terjadi adalah pada BuMil di trimester ketiga. Pada trimester ketiga ini perdarahan yang terjadi berbeda dengan perdarahan pada trimester satu. Pada trimester ketiga, perdarahan bisa terjadi karena letak plasenta yang abnormal mulai ada pembukaan rahimnya. Jika plasentanya terletak tidak normal misalnya di bawah, terbuka mulut rahim maka terjadi perdarahan. Banyak atau tidaknya perdarahan tergantung besarnya pembukaan. Semakin besarnya bayi maka tekanan di dalam rahim itu (tekanan air ketuban itu) semakin tinggi. Jika misalnya balon ketuban ada luka maka bisa pecah karena tekanan air ketuban karena bayi besar maka air ketuban bisa pecah. Pada trimester ini juga bisa Moms lihat pergerakan bayi yang berkurang. Jika suplai oksigen bayi berkurang karena sang Ibu kurang darah (anemia), kurang minum, atau ada masalah dengan ari-arinya, pengapuran atau tali pusatnya yang tidak baik, atau bayi terlilit tali pusat maka bisa membuat suplai oksigen ke bayinya berkurang sehingga pada awalnya bayi seperti orang yang tercekek yaitu bayi bergerak cepat lebih cepat dari biasanya namun semakin lama semakin lambat. Proses dari pergerakan yang lebih cepat dari biasanya dan semakin melambat ini harus bisa dirasakan oleh Ibu, jika tidak maka bayi bisa meninggal di dalam karena terlambat menolongnya. Kontraksi juga termasuk kasus yang paling sering terjadi ya Moms, so Moms mulai bisa aware ya.

Membuat BuMil Panik
Hampir semua kondisi ditiap trimester bisa membuat BuMil panik, namun yang paling membuat BuMil panik adalah pecah ketuban dan perdarahan. Dan yang paling tidak membuat panik adalah pergerakan bayi karena biasanya BuMil jarang memperhatikan gerak bayi dalam kandungan. So, BuMil sebaiknya mulai konsen ya untuk memperhatikan berapa banyak gerakan dan keaktifan si kecil di dalam kandungan.

Harus Segera Ke Rumah Sakit Jika?
Jika BuMil mengalami perdarahan tanpa harus menunggu lama lagi harus segera ke rumah sakit untuk mendapatkan bantuan medis. Mengapa Moms? Hal ini karena mengancam dua pihak, yaitu Moms sendiri serta bayinya. Jika kontraksi dan ketuban pecah hanya mengancam sang bayi saja, namun untuk perdarahan dapat mengancam Ibu serta bayinya. BuMil juga harus mampu membedakan  spotting (jumlah darah yang berupa titik-titik kecil) dengan perdarahan yang lebih banyak ya. Karena spotting itu jumlah darah yang keluar sedikit berupa spot kecil dan bukan bleeding (perdarahan). Namun BuMil juga mesti waspada dengan spotting yang semakin lama semakin banyak ya, jika ini terjadi juga cukup berbahaya ya Moms. Spotting yang hanya terjadi sebentar lalu menghilang artinya recovery bisa kemungkinan tidak berbahaya ya Moms. Walau tidak berbahaya namun sebaiknya harus tetap pergi ke rumah sakit ya Moms untuk dievaluasi.

Kenali Tanda Hartman
Tanda hartman adalah tanda (spot darah) yang timbul karena bayi tertanam di dalam rahim lalu keluar darahnya sedikit. Tanda hartman ini normal pada kehamilan awal, spotting pada kehamilan awal yang masih dalam batas normal. Diperlukan untuk diperiksa ke rumah sakit karena BuMil tidak bisa membedakan apakah spotting terjadi karena tanda hartman atau spotting karena hal yang lainnya untuk itu tetap harus diperiksa ke rumah sakit untuk dilihat penyebabnya.

Tip BuMil Perhatikan Tanda Bahaya  
  • Setiap ada perdarahan harus segera ke rumah sakit.
  • Setiap ada cairan keluar (yang basah hingga ke pakaian luar) harus segera ke rumah sakit karena kemungkinan pecah ketuban.
  • Mulas yang periodik dan progresif harus segera ke rumah sakit.
  • Gerak bayi yang berkurang juga harus segera ke rumah sakit.


  • Konsultan: dr. Budiman Japar, SpOG.
      Rumah Sakit Royal Taruma

Kapan Bumil Harus Bedrest




Teks: Yatin Suleha

Mendengar kata “bedrest” bagi seorang BuMil mungkin momok yang menakutkan. Terbayang akan sangat bosan menjalaninya, serta bertanya-tanya tentang kondisi bayi dalam kandungan. “Apakah benar dengan bedrest ini kehamilan bisa berjalan sesuai harapan lagi?” Pertanyaan di dalam benak BuMil.. Jangan khawatir ya Moms karena ternyata ada dua jenis bedrest yang bisa Moms kenali. Meski cemas menjalaninya, namun tentu saja tujuannya pasti baik kok Moms. Yuk, kenali lebih jauh tentang bedrest.

Dua Macam Bedrest
Ada dua macam bedrest dalam medis ya Moms, yaitu bedrest total dan bedrest partial. Bedrest total adalah total semua kegiatan termasuk buang air kecil dan besar harus di atas tempat tidur dan tidak boleh beraktifitas. Sedangkan bedrest partial adalah hanya mengurangi aktifitas yang berat dan aktifitas ringan masih boleh dilakukan.

Do And Don’t Dalam Bedrest
Pada bedrest total semua aktifitas harus dilakukan di atas ranjang. So, Moms semua aktifitas yang bisa dilakukan atau do di atas ranjang bisa dilakukan seperti;
  • Membaca.
  • Menonton tv.
  • Menonton film.
  • Main games.
  • Duduk.
  • Buang air kecil.
  • Buang air besar.
  • Tidur miring kiri atau kanan.
Sedangkan yang tidak boleh dilakukan atau don’t antara lain:  
  • Bangun.
  • Berjalan.
  • Beranjak dari atas ranjang.

Pada bedrest partial antara lain yang bisa dilakukan atau do, antara lain:
  • Turun dari ranjang.
  • Aktifitas rumahan ringan yang sifatnya pribadi masih boleh dilakukan mandi, buang air kecil atau besar.

Yang tidak boleh dilakukan atau don’t saat bedrest partial antara lain:
  • Menyapu.
  • Cuci piring.
  • Cuci baju.
  • Olahraga ringan.

Kategori BuMil Bedrest
Bedrest partial atau total diperlukan tergantung pada berat atau ringannya suatu keadaan BuMil tersebut ya Moms. Jika BuMil mengalami gangguan berat maka diperlukan bedrest total, jika hanya ringan saja maka diperlukan bedrest partial. Yang dimaksudkan dengan gangguan berat dan memerlukan bedrest total antara lain adalah:
  • Gangguan perdarahan.
  • Hipertensi yang berat.
  • Pecah ketuban.
  • Ibu dengan gangguan pernapasan atau sesak nafas. Hal ini juga termasuk pada sesak napas pada paru-paru, maupun jantung.
  • Morning sickness yang menyebabkan gangguan berat pada BuMil  juga termasuk dalam bedrest total.

Sedangkan yang dimaksudkan dengan gangguan ringan dan hanya memerlukan bedrest partial antara lain adalah:
  • Kontraksi ringan.
  • Hanya flek sedikit.
  • Riwayat ketuban pecah namun sudah tidak mengalir lagi.
  • Hipertensi ringan.
  • Kehamilan ganda yang berhubungan dengan kontraksi.
  • Morning sickness yang belum menganggu stamina si Ibu seperti menimbulkan pusing-pusing dan lainnya.

Manfaat Bedrest?
Pastinya Moms bertanya, apa sih manfaat bedrest untuk Ibu hamil? Memang seberapa penting bedrest dilakukan pada BuMil yang mengalami masalah dalam kehamilannya? Well, perlu Moms ketahui bahwa bedrest sangat bermanfaat karena tujuan utamanya adalah mengurangi oksigen yang terpakai oleh Ibu sehingga dapat ditingkatkan peruntukannya kepada bayi. Tujuan utama bedrest adalah mengurangi metabolisme pada tubuh Ibu hamil, sehingga oksigen yang terpakai lebih sedikit dan oksigen yang tersalurkan untuk bayi akan lebih banyak. Karena berkurangnya oksigen pada rahim yang juga menyebabkan berkurannya oksigen pada bayi bisa menimbulkan kontraksi pada rahim. Karena kontraksi bisa menimbulkan perdarahan. Berkurangnya oksigen bisa menyebabkan perkembangan bayi berkurang (pertumbuhan bayi terhambat). Dengan berkurangnya oksigen selain bisa berakibat pada bayi juga bisa pada sang Ibu, yaitu dapat membuat Ibu sesak.

Moms Jangan “Bandel” Ketika Bedrest
Walau terdengar menyeramkan, bedrest sebaiknya tetap Moms lakukan ya. Jika Moms “membandel” maka bisa jadi keluhan BuMil akan bertambah dan akan berakibat pertumbuhan bayi terhambat hingga bisa juga menyebabkan lahirnya bayi lebih awal (prematur) atau bisa juga menimbulkan perdarahan yang membahayakan kondisi Ibu serta janinnya.

Tip Saat BuMil Harus Bedrest
Ketika mendengar kata leha-leha di atas kasur setelah seharian bekerja keras pastinya menyenangkan ya Moms. Namun, ketika membayangkan di atas tempat tidur dalam waktu yang lama dan melakukan semua aktifitas di atas kasur, hm pastinya sudah membosankan ya. Well, Moms bisa kok melakukan beberapa tip berikut ini.
  • Jika BuMil telah ditetapkan untuk bedrest, baik partial atau total maka BuMil sebaiknya harus memiliki motivasi ya. Karena hal tersebut dilakukan adalah demi sang janin atau anak.
  • Berusaha mencari aktifitas yang dapat membunuh kebosanan.
  • Minum obat secara teratur sesuai petunjuk dokter.
  • Jika masih ada yang kurang jelas dalam hal bedrest sebaiknya Moms hubungi dokter yang bersangkutan ya.

Berapa Lama Bedrest Dilakukan?
Berapa lama bedrest dilakukan pada BuMil? Eits, jangan salah sangka dulu ya Moms tak akan lama kok. Bedrest dilakukan tergantung pada ringan atau beratnya gangguan karena hanya berkisar antara dua sampai tiga hari saja kok Moms. Pada BuMil yang menjalani bedrest partial, jika BuMil hanya mengalami kontraksi, perdarahan, keluarnya air ketuban sudah dua kali 24 jam sudah tidak ada keluhan lagi, seperti tidak ada kontraksi lagi dan sudah tidak keluar darah atau ketuban lagi, maka sudah boleh berakfitas. Dan jika sudah dua kali 24 jam lagi sudah tidak ada keluhan apa pun, maka sudah boleh bebas melakukan dan maka sudah boleh bebas beraktifitas seperti biasa lagi.

Waspada Pada BuMil Dengan Riwayat Keguguran Berulang
Pada BuMil yang pernah mengalami atau memiliki riwayat keguguran berulang atau pernah melahirkan janin prematur berulang karena lemahnya mulut rahim, maka sebaiknya memberitahukan pada dokter kandungan dan dokter akan bedrestkan sang Ibu. Atau jika pun tidak berulang misalnya BuMil saat hamil sekarang ini memiliki gejala-gejala gangguan kesehatan seperti perdarahan, darah tinggi, sesak napas, muntah-muntah sangat berat, atau perut mulas, maka Ibu hamil tersebut harus bedrest ya Moms. Jadi keputusan bedrest dilakukan oleh dokter karena dua hal, yaitu karena dulu pernah punya riwayat dan kondisi Ibu hamil sekarang sedang mengalami gangguan. Namun sebaiknya bedrest tidak Moms lakukan atas dasar inisiatif sendiri ya Moms, karena jika tidak dibutuhkan Moms tidak perlu melakukannya lho. Namun pada kehamilan trimester ketiga saat sembilan bulan ketika Moms sudah sering merasa lelah, maka istirahat diperlukan juga pengurangan aktifitas, apakah aktifitas rutin yang harus dikurangi, sampai partial atau sampai total. Tergantung berat atau ringannya keluhan yang  Moms rasakan. Namun jika dalam kehamilan trimester ketiga tidak merasa ada keluhan apa pun, maka tidak perlu melakukan bedrest ya Moms.

  • Konsultan: dr. Budiman Japar, SpOG.
                 Rumah Sakit Royal Taruma